Keseharian Nelayan Tradisional Desa Wisata Kreatif Terong : Bersandar pada Laut, Menjaga Bakau, Merawat Masa Depan

2x 25-02-2026 10:04:47 Berita

Desa Wisata Kreatif Terong merupakan potret nyata desa pesisir yang tumbuh dengan kesadaran ekologis, kearifan lokal, dan nilai moral yang kuat. Di desa ini, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang kehidupan yang menyatu dengan budaya, etika, dan hukum. Keseharian nelayan tradisional Desa Terong menggambarkan bagaimana masyarakat pesisir menggantungkan nafkah di laut, bersandar pada kelestarian hutan bakau, serta menanamkan pesan kuat kepada seluruh warga desa agar selalu menjaga keutuhan kawasan hutan lindung pantai tanpa merusak dan tanpa melanggar aturan.

Keseharian nelayan dan warga Desa Terong saat air laut/sungai surut  memanfaatkannya untuk memperbaiki perahu atau pukat yang rusak sambil anak-anaknya bercengkerama dalam suasana desa yang bersahaja.

Laut sebagai Ruang Hidup dan Pengharapan.

Setiap pagi, ketika cahaya matahari mulai menyentuh permukaan air, nelayan Desa Terong telah bersiap. Perahu kayu sederhana, jaring yang dirajut dengan tangan, bubu buatan sendiri, dan joran pancing menjadi saksi bisu kesungguhan mereka. Melaut adalah rutinitas yang dijalani dengan penuh tanggung jawab, bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada alam.

Bagi nelayan Terong, laut bukan milik siapa pun untuk dieksploitasi secara serakah. Laut adalah titipan yang harus dijaga. Kesadaran ini tumbuh dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam. Mereka memahami bahwa kerusakan ekosistem laut akan kembali sebagai kesulitan hidup, menurunnya hasil tangkapan, dan hilangnya masa depan generasi berikutnya.

Menebar Pukat : Gotong Royong yang Terjaga
Menebar pukat menjadi salah satu seni keseharian nelayan tradisional Desa Terong. Aktivitas ini dilakukan dengan penuh perhitungan dan kebersamaan. Pukat yang digunakan adalah pukat tradisional yang tidak merusak dasar laut dan tidak menangkap ikan secara berlebihan.
Proses menebar hingga menarik pukat melibatkan kerja sama yang kuat. Setiap nelayan memahami perannya masing-masing. Hasil tangkapan kemudian dibagi secara adil. Nilai gotong royong inilah yang menjadi fondasi sosial masyarakat pesisir Terong, sekaligus membedakan praktik nelayan tradisional dengan pola eksploitasi modern yang sering kali mengabaikan keseimbangan alam.

Sungai dan hutan mangrove, sebagai ruang hidup dan aktifitas nelayan tradisional Desa Terong

Bubu : Kecerdasan Lokal Menjaga Ekosistem
Selain pukat, nelayan Desa Terong masih setia menggunakan alat bubu sebagai perangkap ikan. Bubu dibuat dari bahan sederhana seperti bambu dan kawat, dirancang agar ramah lingkungan. Alat ini dipasang di lokasi-lokasi tertentu, terutama di sekitar kawasan bakau yang menjadi habitat alami berbagai jenis ikan dan biota laut.
Penggunaan bubu menunjukkan kecerdasan lokal masyarakat Terong dalam membaca alam. Mereka memahami musim, arus, dan kebiasaan ikan. Bubu tidak merusak terumbu, tidak menghancurkan dasar perairan, dan memberikan kesempatan ikan kecil untuk tetap hidup dan berkembang. Inilah bentuk nyata praktik perikanan berkelanjutan yang telah lama dijalankan tanpa harus menggunakan istilah modern.

Memancing : Kesabaran dan Etika Hidup
Memancing adalah aktivitas paling bersahaja dalam keseharian nelayan Terong. Dengan joran sederhana, umpan alami, dan kesabaran, nelayan melemparkan pancing di laut atau muara. Memancing bukan sekadar mencari ikan, tetapi juga ruang refleksi dan dialog batin dengan alam.
Hasil memancing mungkin tidak selalu banyak, namun cukup untuk kebutuhan harian. Dari aktivitas ini, nilai kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur terus terpelihara. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter nelayan Desa Terong sebagai manusia yang tidak serakah dan tahu batas.

Hutan Bakau : Penyangga Kehidupan Pesisir
Hutan bakau memiliki peran yang sangat vital bagi nelayan Desa Terong. Bakau menjadi benteng alami dari abrasi, penahan gelombang, serta tempat berkembang biak ikan, udang, dan kepiting. Tanpa bakau, laut kehilangan keseimbangannya, dan nelayan kehilangan sumber penghidupan.
Masyarakat Desa Terong memahami sepenuhnya hubungan erat antara bakau dan laut. Oleh karena itu, menjaga keutuhan hutan bakau bukan hanya kewajiban hukum, tetapi kebutuhan hidup. Kesadaran ini tumbuh dari pengalaman nyata melihat dampak kerusakan lingkungan di wilayah lain.

Menjaga Tanpa Merusak, Memanfaatkan Tanpa Melanggar
Dalam tata kelola hutan lindung pantai, masyarakat Desa Terong berkomitmen untuk patuh pada aturan. Tidak ada pembenaran untuk penebangan liar, perusakan bakau, atau aktivitas ilegal lainnya dengan alasan ekonomi. Warga desa sepakat bahwa pelanggaran hukum, norma, adab, dan etika tidak boleh dibenarkan hanya demi kebutuhan sesaat.
Prinsip yang dipegang adalah menjaga alam dengan cara yang sah dan bermartabat. Jika alam rusak, yang hilang bukan hanya sumber ekonomi hari ini, tetapi juga ketenangan hidup di masa depan.

Sikap Kritis terhadap Aktivitas Tambang
Warga Desa Terong tidak bersikap anti terhadap aktivitas tambang. Mereka memahami bahwa pertambangan memiliki peran ekonomi jika dikelola dengan baik, legal, dan bertanggung jawab. Namun, masyarakat dengan tegas menolak segala bentuk tambang ilegal yang merusak lingkungan, melanggar aturan, dan mengabaikan etika sosial.
Bagi masyarakat Terong, alasan ekonomi, kemanusiaan, atau kebutuhan makan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk merusak alam dan melanggar hukum. Masih banyak cara lain yang lebih bermartabat dan berkelanjutan untuk bertahan hidup tanpa menghancurkan masa depan bersama.

Alternatif Hidup yang Bermartabat dan Berkelanjutan
Desa Wisata Kreatif Terong terus mendorong alternatif ekonomi yang selaras dengan alam. Perikanan tradisional, agrowisata, ekowisata mangrove, pengolahan hasil laut, hingga kegiatan edukasi wisata menjadi pilihan nyata. Semua ini membuka peluang ekonomi tanpa harus mengorbankan lingkungan.

Melalui desa wisata, nelayan dan warga desa dapat memperoleh nilai tambah dari pengetahuan, budaya, dan kearifan lokal yang mereka miliki. Ini membuktikan bahwa menjaga alam bukan penghambat ekonomi, melainkan fondasi ekonomi jangka panjang.

Hutan Mangrove menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk hidup, termasuk nelayan tradisional. Pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove.

Peran Media Sosial dan Komunitas
Aktivitas keseharian nelayan, upaya menjaga bakau, dan nilai-nilai desa terus didokumentasikan dan dibagikan melalui berbagai platform media sosial desa dan komunitas. Dokumentasi ini menjadi sarana edukasi publik, sekaligus pengingat bahwa desa kecil pun mampu memberi contoh praktik hidup berkelanjutan.
Cerita-cerita dari lapangan menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kesadaran kolektif masyarakat desa yang memilih jalan benar meski tidak mudah.

Harapan dan Pesan untuk Generasi Mendatang
Nelayan tradisional Desa Wisata Kreatif Terong menyimpan harapan besar agar generasi muda tetap mencintai laut dan hutan bakau. Mereka berharap anak-anak desa tumbuh dengan pemahaman bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga martabat diri.
Pesan yang terus diwariskan sederhana namun kuat: jangan rusak alam, jangan langgar hukum, jangan korbankan masa depan demi keuntungan sesaat. Hidup tenang hanya bisa dicapai jika manusia hidup selaras dengan alam.

Penutup
Keseharian nelayan tradisional Desa Wisata Kreatif Terong adalah cermin kehidupan pesisir yang bermartabat. Menebar pukat, memasang bubu, dan melempar pancing bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan seni hidup yang menghormati alam dan hukum. Dengan menjaga laut dan hutan bakau, masyarakat Terong menjaga masa depan bersama. Inilah jalan sunyi namun kokoh yang dipilih Desa Terong: hidup sederhana, patuh aturan, dan berkelanjutan demi generasi yang akan datang.

Penulis : Iswandi (Perintis Dan Penggerak Desa Wisata Kreatif Terong)

Posting Terkait