Menolak Lupa : Kisah Reklamasi Bekas Tambang Timah yang Dipelopori Masyarakat Menuju Sebuah Cita-Cita Mulia

11x 26-02-2026 10:07:23 Berita

Di balik pesona pantai, mangrove, dan kebun sayur yang menghijau di Belitung, ada sebuah perjuangan panjang yang sering tak terlihat oleh mata para wisatawan. Sebuah upaya kolektif masyarakat untuk menolak lupa sejarah reklamasi bekas tambang timah demi mengembalikan tanah yang rusak menjadi ruang bagi kehidupan, kreativitas, dan harapan baru. Kisah ini bermula pada awal tahun 2013 di Desa Terong, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, tempat kini berdirinya Wisata Aik Rusa Berehun—cikal bakal dari Desa Wisata Kreatif Terong yang berkembang pesat hari ini.

Latar Belakang : Bekas Tambang dan Tantangan Lingkungan
Sebagai daerah yang kaya sumber daya, Belitung dikenal luas karena sejarah panjangnya sebagai pusat tambang timah yang produktif. Selama puluhan tahun, penambangan timah membuka sebagian besar lanskap alam Belitung—termasuk di wilayah Desa Terong. Namun, ketika aktivitas tambang meredup, wilayah-wilayah bekas galian meninggalkan bekas lubang yang luas, tanah yang rusak, dan kolam besar yang tak terurus. Area ini berubah menjadi lanskap berlubang yang seolah mencerminkan luka lingkungan yang belum sembuh.
Kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan persoalan estetika dan fungsi ekosistem, tetapi juga memberi dampak sosial ekonomi bagi masyarakat setempat yang mayoritas bergantung pada pertanian kecil, nelayan, dan aktivitas ekonomi tradisional lainnya. Alih fungsi lahan yang tercemar menjadi tantangan besar—baik dari sisi ekologi maupun peluang ekonomi.
Menolak lupa sejarah itu berarti memahami bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya soal estetika, tapi juga soal masa depan generasi. Masyarakat Desa Terong sadar bahwa tanah tak bisa dibiarkan terus rusak; mereka harus bergerak, bersama, demi sebuah cita-cita bersama: *mengembalikan bekas tambang menjadi ruang hijau kembali.

Kondisi awal bekas tambang timah sebelum direklamasi

Awal Transformasi: Reklamasi Swadaya Masyarakat
Pada tahun 2013, masyarakat Desa Terong memulai sebuah langkah besar yang tak mudah : **reklamasi secara swadaya bekas tambang timah**. Bukan dengan alat berat, bukan dengan rencana besar dari pemerintah daerah secara langsung—melainkan dengan tekad, tenaga, dan kebersamaan warga setempat. Selama kurun tiga tahun (2013–2016) mereka secara sukarela merapikan bekas galian, menanam tumbuhan penutup tanah, serta membangun fasilitas dasar yang memungkinkan kawasan tersebut berubah menjadi ruang yang lebih ramah lingkungan.
Proses ini bukan sekadar tugas fisik. Di balik itu juga ada semangat untuk melestarikan alam sekaligus membuka peluang baru ekonomi dan budaya. Masyarakat menanam vegetasi yang bermanfaat, mereklamasi kolam bekas tambang sebagai kolam pancing atau tempat wisata air, serta menata jalur-jalur untuk pejalan kaki dan area fotografi—sebuah tindakan nyata bahwa alam yang rusak pun bisa diperbaiki jika dikerjakan dengan hati.

Wisata Aik Rusa Berehun: Titik Temu Antara Alam, Edukasi, dan Budaya
Kawasan bekas tambang yang direklamasi itu kemudian dinamai Wisata Aik Rusa Berehun—yang kini menjadi pusat atau meeting point Desa Wisata Kreatif Terong. Nama “Aik Rusa” sendiri memiliki akar sejarah lokal: “Aik” berarti air, dan “Rusa” mengacu pada rusa yang pernah sering terlihat minum di wilayah tersebut (salah satu cerita kearifan lokal masyarakat).
Kini, Aik Rusa Berehun bukan sekadar taman yang menghijau. Tekad masyarakat telah mengubahnya menjadi destinasi wisata edukasi terpadu—memadukan pembelajaran mengenai lingkungan, budaya lokal, keterampilan tradisional, dan pengembangan kapasitas masyarakat desa. Wisata edukasi ini mencakup :

**Kolam pancing edukatif** yang sebelumnya merupakan lubang bekas tambang, kini dipadati dengan pepohonan dan kolam ikan yang bisa dinikmati wisatawan.
**Paket edukasi seni budaya** seperti belajar tari tradisional Belitung, pemahaman musik Gambus, serta pertunjukan seni yang kerap menjadi daya tarik pengunjung.
**Aktivitas tradisional** seperti workshop memasak makanan khas Belitung (makan bedulang), paket belajar anyaman tradisional, sampai kegiatan bertani sayur lokal di areal agrowisata yang kini menghijau.
**Ruang pertemuan dan fasilitas umum** seperti pondok, kantin, mushalla, toilet, homestay, dan warung UMKM, semuanya dibangun untuk mendukung kenyamanan wisatawan sekaligus pemberdayaan ekonomi warga desa. 

Tempat yang dulunya jadi aktifitas tambang, menjadi tempat aktifitas wisata edukasi mengenal kearifan lokal Belitung.

Dengan pengembangan fasilitas semacam ini, Aik Rusa Berehun bertransformasi menjadi titik temu bagi wisatawan, pelajar, pencinta lingkungan, dan pelaku ekonomi kreatif. Tak mengherankan jika nama Desa Wisata Kreatif Terong terus menjadi sorotan—sebuah contoh nyatanya bahwa bekas tambang bisa diubah menjadi ruang berdaya guna.

Bangkitnya Desa Wisata Kreatif Terong
Dari Aik Rusa Berehun yang direklamasi secara swadaya, terbentuklah sebuah ekosistem desa wisata yang utuh, yang kemudian dikenal sebagai Desa Wisata Kreatif Terong. Inisiasi ini bukan semata soal wisata semata, tetapi tentang pemberdayaan masyarakat, penguatan budaya lokal, dan konservasi lingkungan melalui pariwisata berkelanjutan.

Desa Wisata Kreatif Terong kini dikenal memiliki berbagai atraksi yang mencerminkan keberagaman pengalaman :
* Wisata alam seperti hutan mangrove, pantai, dan Bukit Tebalu Simpor Laki yang menawarkan pemandangan alam yang menawan.
* Agrowisata yang memungkinkan wisatawan belajar bertani, menanam sayuran, dan memahami hidup yang harmonis bersama alam.
* Budaya melalui seni tari tradisional, musik Gambus, serta aktivitas budaya yang dibawakan oleh Sanggar Tari Aik Rusa Berehun.
* Wisata edukasi dan aktivitas tradisional lainnya yang membuat pengalaman berwisata tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga penuh pembelajaran.
Dengan pendekatan seperti ini, Desa Wisata Kreatif Terong pun turut serta dalam kompetisi nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI)—masuk dalam kategori 75 besar desa wisata terbaik di Indonesia. Terus pada Januari 2025 mendapatkan kembali penghargaan dari ASEAN TOURISM AWARD ATA) sebagai Pemenang pada kategori COMMUNITY BASED TOURIM tingkat ASEAN mewakili Indonesia. Ini menunjukkan bahwa apa yang semula hanyalah bekas lubang tambang kini telah menjadi sebuah komunitas dengan reputasi nasional dan internasional dengan prestasi nyata.

Kunjungan Tokoh Nasional : Pengakuan terhadap Upaya Kolektif
Pentingnya transformasi ini tidak hanya diakui oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh pemerintah pusat. Pada era Kabinet Presiden Joko Widodo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bapak Sandiaga Uno melakukan kunjungan langsung ke lokasi Desa Wisata Kreatif Terong pada tahun 2021 dan thaun 2023—mengapresiasi bagaimana masyarakat mengonversi masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi kreatif yang produktif dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, di era Kabinet Presiden Indonesia saat ini, Wakil Menteri Pariwisata Indonesia Ibu Ni Luh Putu Puspawati (atau dikenal sebagai Ibu Ni Luh Puspa) juga pernah datang untuk melihat dari dekat upaya serta potensi yang dimiliki masyarakat dan desa ini. Bahkan sampai membeli paket wisata edukasi fullday dengan berbagai macam kegiatan mulai belajar menari, belajar menganyam, belajar masak kuliner tradisional Belitung, menikmati makan bedulang khas Belitung, mengunjungi homestay dan beraktifitas di agrowisata.
Kunjungan tokoh-tokoh nasional semacam ini bukan sekadar publisitas. Ini merupakan pengakuan terhadap kerja keras masyarakat, kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat (community-based tourism).

Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas Masyarakat.
Sebelum dan sesudah pengakuan nasional, masyarakat Desa Terong tak hanya berhenti pada transformasi lahan fisik. Mereka juga giat terlibat dalam berbagai program pelatihan dan peningkatan kapasitas yang bertujuan untuk memperkuat keterampilan pengelolaan wisata, pelayanan kepada wisatawan, pemasaran digital, dan ekonomi kreatif.
Program-program pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh para pengelola wisata, tetapi juga oleh pemuda desa, pelaku UMKM lokal, pengrajin, dan warga yang ingin berkontribusi terhadap pengembangan desa wisata. Ini menunjukkan bahwa transformasi bukan sekadar estetika, tetapi perubahan struktur sosial ekonomi di masyarakat.

Dampak Positif Bagi Masyarakat dan Lingkungan
Transformasi ini membawa dampak besar—baik secara sosial maupun ekologis :
1. Ekonomi Lokal yang Menguat
Wisata Aik Rusa Berehun dan Desa Wisata Kreatif Terong membuka peluang ekonomi baru. Warga desa kini dapat berpartisipasi dalam sektor pariwisata secara langsung melalui UMKM, homestay, pemandu wisata, penyedia makanan khas, hingga pelaku seni dan budaya yang tampil sebagai atraksi.

2. Pemulihan Lingkungan
Reklamasi bekas tambang yang awalnya rusak kini berubah menjadi ruang hijau, kolam pancing, area edukasi, dan jalur wisata alam. Hal ini mengembalikan fungsi ekologis lahan yang pernah rusak—suatu contoh pemulihan lingkungan yang dijalankan oleh masyarakat sendiri.
3. Pendidikan dan Kesadaran Lingkungan
Wisata edukasi yang dikembangkan mengajarkan pengunjung tentang pentingnya menjaga ekosistem, menghormati budaya lokal, dan betapa pentingnya kerja sama komunitas untuk menciptakan perubahan berarti dalam skala lokal. 
4. Budaya yang Hidup
Melalui seni tari, musik Gambus, dan atraksi budaya lainnya, identitas lokal tidak hanya dipertahankan tetapi juga direnungkan kembali sebagai bagian penting dari pengalaman wisata. 

Dari bekas tambang timah menjadi tempat kunjungan desa wisata favorit Wakil Menteri Pariwisata RI Ibu Ni Luh Puspa

Refleksi Akhir : Menjadi Teladan bagi Negeri
Kisah Desa Wisata Kreatif Terong, khususnya Wisata Aik Rusa Berehun, bukan hanya soal perubahan fisik dari tambang menjadi taman wisata. Ini adalah narasi tentang ketahanan komunitas, tentang bagaimana generasi dapat mengambil kembali masa depan mereka, serta bagaimana alam yang rusak bisa disembuhkan melalui gotong-royong dan tekad.
Ketika kita menolak lupa sejarah reklamasi bekas tambang timah—kita mewariskan kepada generasi berikutnya pemahaman bahwa lingkungan bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan bersama. Desa Terong membuktikan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Dari bekas lubang tambang yang sunyi menjadi tempat edukasi, budaya, dan kreasi—ini bukan sekadar wisata, tetapi simbol harapan bahwa masa depan yang hijau dan berdaya itu mungkin jika kita memilih untuk menjaga dan merawatnya bersama.

 Penulis : Iswandi (Perintis Dan Penggerak Desa Wisata Kreatif Terong Belitung)

Posting Terkait